"Ayooo! Tunggu..." ucap bbrp teman Lia sambil mengambil kartu bayaran.
Setelah itu, Lia dan 4 temannya-- Eno, Atikah, Dian, dan Dewi-- turun dari lantai 4 ke lantai satu. Menuruni tangga yg dirancang kurang baik. Duh, tangganya membuat kaki pegal. Ini aja turun. Kalo naik parahan lagi. Umpat Lia dalam hati.
Ketika sampai di loket pembayaran mereka mengumpulkan kartu bayaran mereka. Petugas TU yang sedang kelimpungan karena begitu banyak siswa yg membayar, menyuruh mereka mengambilnya kembali saat pulang sekolah.
Mereka pun melangkah pergi dan berniat kembali ke kelas. Namun, ada suaa yang memanggil mereka dari arah ruang guru.
"Hei, anak2 yg berlima, kesini sebentar" panggil guru tanaman obat mereka. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka berbalik dan mengikuti guru mereka.
"Tolong buang bunga2 layu dari dalam semua vas yg ada di ruang guru ini."
Sesaat sebelum masuk, Lia bertemu dengan...
Yaaaa kau taulah siapa. Ini cerita cinta kan? Haha. Ia memandang penuh kagum. Menyapa dan tersenyum tulus. Tapi (sebut saja ia) Mahar terlihat datar. Ia terlihat sakit. Ia mencari seorang guru tapi Lia tak tahu keberadaan guru yang dicarinya. Wajah Mahar tampak kecewa. Kemudian ia berlalu.
Lia bergegas membantu teman2nya mengerjakan tugas yang diberikan sang guru. Hampir selesai pekerjaan mereka. Lia keluar untuk mencari sapu. Saat itulah ia kembali bertemu Mahar. Lia kembali menyapa dan tersenyum. Mahar membalas senyumnya. Meski hanya tersenyum tipis, tapi Lia cukup senang
"Kenapa sih? Kayaknya bete? Ada yang salah? Senyum dong. Biasanya nyuruh senyum. Jangan bete. Ga suka tau liat lo bete." kata Lia sambil menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Bodo amat. Gw capek" jawab Mahar pendek dengan muka semakin masam.
Sepertinya ia benar2 sakit. Dia membawa tas, ia pasti izin pulang. Ah... Kenapa dia? Kenapa menampakkan wajah seperti itu sejak kemarin? Gumam Lia dalam hatinya.
Kemudian Lia bergegas kembali ke ruang guru untuk melanjutkan tugasnya. Setelah selesai, Lia dan keempat temannya kembali ke kelas.
Langkah Lia gontai. Ia sangat khawatir pada Mahar. Ia tak tahu apa yang harus ia lakuka.. Ya Allah aku harap ia baik2 saja.
Sesampainya di kelas, Lia menatap kosong ke arah papan tulis. Memainkan pulpen di jemarinya. Kemudian mengeluarkan ponsel dan mngirim pesan singkat pada Mahar
"i dont know what truly happen with you. But.... you look not good. GWRRS buddy.:-)
You told me to smile. So you have to too :-D"
Kembali ia menatap papan tulis dan guru yang sedang menerangkan. Mencoba berkonsentrasi tapi gagal. Lia terlalu khawatir pada Mahar. Makin khawatir karena tak ada tanda bahwa pesan sudah terkirim.
Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar